Dosen FK UNS Bagikan Tips Cegah Stunting Sejak Dini

Dosen FK UNS Bagikan Tips Cegah Stunting Sejak Dini
Dengarkan artikel

UNS — Pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk menurunkan angka stunting di Tanah Air melalui berbagai program pencegahan yang lebih terintegrasi dan masif. Stunting, yang mengacu pada kondisi kekurangan gizi kronis yang menghambat pertumbuhan anak, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang harus segera diatasi.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Revi Gama Hatta Novika, S.ST., M.Kes. menyampaikan bahwa stunting adalah kondisi di mana tinggi badan anak lebih rendah dari standar yang seharusnya untuk usia mereka akibat kekurangan gizi kronis, infeksi, dan faktor sosial ekonomi yang kurang mendukung. Dampaknya tidak hanya terlihat pada fisik, tetapi juga pada perkembangan kognitif dan kemampuan belajar anak, yang dapat menghambat potensi mereka di masa depan.

“Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah menetapkan berbagai langkah untuk mencegah stunting sejak dini, terutama dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Salah satu pendekatan yang ditekankan Kemenkes RI adalah metode ABCDE,” terang Dr. Revi kepada uns.ac.id, Kamis (22/5/2025).

ABCDE ini mencakup sebagai berikut. Pertama, A – Aktif Minum Tablet Tambah Darah (TTD). Remaja putri dianjurkan mengonsumsi TTD 1 tablet per minggu, sementara ibu hamil sebaiknya mengonsumsi 1 tablet setiap hari selama kehamilan (minimal 90 tablet). Hal ini penting untuk mencegah anemia yang dapat memengaruhi pertumbuhan janin.

Kedua, B – Bumil Teratur Periksa Kehamilan. Ibu hamil disarankan melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali selama masa kehamilan, dengan setidaknya 2 kali pemeriksaan dilakukan oleh dokter menggunakan Ultrasonografi (USG). Pemeriksaan rutin membantu memantau kesehatan ibu dan perkembangan janin.

Ketiga, C – Cukupi Konsumsi Protein Hewani. Konsumsi protein hewani setiap hari, seperti ikan, telur, daging ayam, dan daging sapi, sangat penting bagi ibu hamil dan anak usia di atas 6 bulan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Keempat, D – Datang ke Posyandu Setiap Bulan. Orang tua dianjurkan membawa anak ke Posyandu secara rutin setiap bulan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mendapatkan imunisasi yang diperlukan.

Kelima, E – Eksklusif Air Susu Ibu (ASI) 6 Bulan. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan anak sangat penting. Setelah itu, ASI dapat dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan tambahan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang.

Selain pendekatan ABCDE tersebut, juga perlu memperhatikan beberapa hal. Yaitu terkait dengan pola asuh. Pola pengasuhan orang tua erat kaitannya dengan perilaku dan kebiasaan keluarga terutama dalam pemberian makan bagi bayi dan balita yang mencakup kuantitas, kualitas, dan variasi makanan sesuai kebutuhan.

Sanitasi dan akses air bersih juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan jamban sehat, dan memastikan ketersediaan air bersih untuk mencegah penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan anak.

Imunisasi lengkap menjadi langkah selanjutnya. Memberikan imunisasi sesuai jadwal untuk melindungi anak dari berbagai penyakit yang dapat memengaruhi pertumbuhannya. Opini Dr. Revi sejalan dengan pencapaian Sustainable Develpment Goals (SDGs) ketiga yaitu Kesehatan dan Kehidupan yang Sejahtera. HUMAS UNS