Fakultas Psikologi UNS menggelar workshop “Strategi Running Program Studi Profesi Psikologi” pada 10 April di UNS Inn. Kegiatan ini membahas praktik terbaik, tantangan implementasi, dan strategi pengelolaan sumber daya manusia untuk mencetak psikolog profesional.
UNS — Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan workshop bertajuk “Strategi Running Program Studi Profesi Psikologi: Best Practices dan Tantangan Implementasi” pada Jumat (10/4) di Ruang Madukoro UNS Inn. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Susatyo Yuwono, S.Psi., M.Si., Psikolog dan diikuti oleh dosen-dosen Fakultas Psikologi UNS.
Workshop ini menjadi bagian dari upaya strategis fakultas dalam mempersiapkan penyelenggaraan Program Studi Profesi Psikologi yang unggul, adaptif, dan sesuai dengan standar nasional. Melalui forum ini, peserta memperoleh gambaran komprehensif mengenai praktik terbaik serta berbagai tantangan dalam implementasi program profesi.
Dalam pemaparannya, Susatyo menyoroti tantangan utama yang dihadapi banyak institusi, yaitu keterbatasan jumlah psikolog dengan Surat Izin Praktik Psikologi (SIPP) aktif.
“Salah satu tantangan program profesi saat ini adalah keterbatasan psikolog dengan SIPP aktif. Namun demikian, dosen dengan SIPP nonaktif masih dapat dilibatkan dengan mekanisme yang tepat,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sistem pembelajaran pada program profesi psikologi umumnya menggunakan sistem blok yang terintegrasi dengan praktik lapangan. Setiap blok dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada Mahasiswa dalam berbagai latar praktik.
“Model pembelajaran berbasis blok memungkinkan mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga langsung mempraktikkan kompetensi di lapangan. Evaluasi dilakukan secara bertahap melalui ujian internal sebelum mahasiswa mengikuti ujian kompetensi,” tambahnya.
Dari aspek pengelolaan sumber daya manusia, Susatyo menekankan pentingnya menjaga rasio pembimbing agar tetap ideal demi kualitas pendidikan.
“Dalam program profesi, satu dosen idealnya membimbing maksimal lima mahasiswa agar proses pendampingan lebih optimal dan tidak terjadi overload,” ujarnya.
Selain itu, workshop juga membahas pentingnya penjadwalan yang fleksibel, distribusi beban kerja dosen, serta peran tenaga kependidikan dalam mendukung operasional program studi. Ketersediaan sarana prasarana seperti laboratorium dan ruang asesmen juga menjadi faktor penting dalam menunjang proses pembelajaran.
Pada sesi diskusi, peserta mengangkat berbagai isu teknis, termasuk pengelolaan fasilitas laboratorium pada gedung yang terpisah. Menanggapi hal tersebut, narasumber menekankan pentingnya perencanaan yang matang sejak awal.
Jika fasilitas berada di lokasi yang berbeda, maka penjadwalan harus dilakukan secara cermat dan mahasiswa perlu mendapatkan kepastian sejak awal, termasuk saat orientasi atau matrikulasi. Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya tahap matrikulasi dalam menyamakan pemahaman dasar mahasiswa.
“Matrikulasi sangat penting karena latar belakang mahasiswa berbeda-beda. Di tahap ini, mahasiswa dibekali pemahaman dasar asesmen sebelum masuk ke praktik yang lebih kompleks,” jelasnya.
Workshop ini juga membahas sistem seleksi mahasiswa program profesi yang dilakukan secara bertahap, mulai dari seleksi administrasi, tes potensi akademik, psikotes, hingga wawancara untuk memastikan kesiapan akademik dan psikologis calon mahasiswa.
Sebagai tindak lanjut, pada sesi akhir kegiatan dilakukan pembagian tugas reviu proposal pendirian Program Studi Profesi Psikologi UNS. Para dosen terlibat aktif dalam memberikan masukan guna menyempurnakan dokumen akademik dan administratif.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi UNS menegaskan komitmennya untuk menghadirkan Program Studi Profesi Psikologi yang berkualitas dan mampu mencetak lulusan psikolog yang profesional, kompeten, dan berintegritas. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa tujuan utama diadakannya workshop strategi pengelolaan program profesi psikologi di Fakultas Psikologi UNS?
Workshop ini bertujuan sebagai upaya strategis fakultas dalam mempersiapkan penyelenggaraan Program Studi Profesi Psikologi yang unggul, adaptif, dan sesuai dengan standar nasional. Lihat di artikel
Apa tantangan utama yang dihadapi dalam penyelenggaraan program profesi psikologi saat ini?
Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan jumlah psikolog dengan Surat Izin Praktik Psikologi (SIPP) aktif. Lihat di artikel
Bagaimana model pembelajaran yang umum digunakan pada program profesi psikologi?
Sistem pembelajaran umumnya menggunakan sistem blok yang terintegrasi dengan praktik lapangan, memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa. Lihat di artikel
Berapa rasio ideal dosen pembimbing terhadap mahasiswa dalam program profesi psikologi?
Dalam program profesi, satu dosen idealnya membimbing maksimal lima mahasiswa agar proses pendampingan lebih optimal. Lihat di artikel
Mengapa tahap matrikulasi penting dalam program profesi psikologi?
Matrikulasi sangat penting untuk menyamakan pemahaman dasar mahasiswa karena latar belakang mereka yang berbeda-beda sebelum masuk ke praktik yang lebih kompleks. Lihat di artikel



















