Lembaran kain ukuran scarf berjejer rapi di jemuran belakang Gedung II FSRD UNS siang itu, Kamis (21/7/2016). Lembaran kain yang baru saja diberi warna itu sesekali berkibar diterpa angin. Beberapa peserta Short Course Batik 2016, pemilik kain batik tersebut, saling berbagi cerita tentang motif yang telah mereka buat setelah sesi pewarnaan. Hari itu, peserta International Batik Short Course dikenalkan dengan proses pewarnaan batik dengan pewarna sintetis maupun pewarna alami.

Short Course Batik
Sejak Senin 18 Juli 2016, sebanyak sembilan mahasiswa asing mengikuti short course membatik yang diselengggarakan Program Studi Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS. Selama enam hari, kesembilan mahasiswa asing tersebut dikenalkan dengan batik, antara lain pelatihan batik cap dan tulis, proses pewarnaan, kunjungan ke Batik Dalem Hardjonegoro dan Batik Pandono, dan menginap semalam di desa sentra Batik yang terletak di Sragen.
Yusif Lomin, salah satu peserta mengaku tidak asing dengan batik. Mahasiswa asal Afrika ini menjelaskan, perbedaan mencolok terletak pada motif. “Saya membuat motif bergambar ikan, bunga, simbol hati, bond , ada simbol raja, dan stars. Saya coba mix motif Indonesia dan (motif dari) tempat saya,” ujar Yusif, mahasiswa salah satu universitas di Malang. Sembari menunjukkan kerja kerasnya, Yusif menjelaskan makna dari rangkaian motif yang ia buat. “Raja berada di atas, kemudian ini gambar hati, yakni perdamaian. Ada gambar ikan dan bunga yang mengelilingi, simbol kesejahteraan. Saya mau menyampaikan pesan keadilan dan perdamaian,” tuturnya.
Lain dengan Yusif, Burwan menulis inisial nama anak dan istrinya di sela-sela motif bunga dan ikan yang ia buat. “Ini D, double D, my name and my boy’s name. Ini nama his mother. We are family,” ujar Burwan sembari menunjukan karyanya. Mahasiswa Program Pascasarjana UNS ini mencoba menuangkan kerinduan akan keluarganya lewat motif yang ia buat.
Misi Budaya
Setiap peserta short course memiliki alasan berbeda untuk mengikuti kegiatan selama seminggu ini. Hal tersebut yang menjadi salah satu pertimbangan penerimaan peserta. “Dari pendaftar yang masuk kami saring dan akhirnya mendapat sembilan peserta dilihat dari motivasi mereka ingin mengikuti kegiatan ini. Kalau dilihat, mereka sangat antusias sampai kali kewalahan meladeni pertanyaan mereka,” terang Tiwi Bina Affanti, Kepala Prodi Kriya Tekstil di sela-sela memberi pelatihan.

Raeef Al- Tamimi, mahasiswa FEB UGM berbagi kisah ketertarikannya dengan batik. “Saya mengajar bahasa Inggris, Arab kepada anak-anak. Saat saya tanya ciri khas dari negara mereka, mereka jawab batik. Tapi mereka tidak paham mengapa batik bisa jadi ciri Indonesia,” ujar Raeef yang berasal dari Yaman ini. Setelah mengikuti short course, Raeef mengaku, membatik itu sangat susah. “Jadi saya tidak akan menawar lagi kalau membeli batik. Membatik itu susah ,” ujarnya sembari tertawa.
Short Course membatik yang kali pertama diselenggarakan ini menyasar peserta mahasiswa asing. Ke depan, Short Course batik akan menjadi agenda rutin Prodi Kriya Tekstil. Kepala Layanan Internasional Taufik Al Makmun menjelaskan, kegiatan Batik Short Course kali ini juga membawa misi memperkenalkan Indonesia lewat batik.
Sebagai kesiapan penyelenggaraan short course, Tiwi Bina Affanti menggandeng mahasiswanya sebagai pendamping dan interpreter dari Layanan Internasional. “Tidak ada kendala bahasa sementara ini. Kita tetap menggunakan bahasa Indonesia tapi tetap membutuhkan interpreter untuk membantu menjelaskan,”terangnya.[](nana.red.uns.ac.id)



















