UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menambah guru besar dengan dikukuhkannya Prof. Dr. Ir. Wijang Wisnu Raharjo, M.T. Beliau menjadi guru besar dalam bidang Teknologi Rekayasa Material Maju. Momen tersebut menjadikannya Guru Besar ke-38 di Fakultas Teknik (FT) dan ke-354 di lingkungan UNS.
Acara pengukuhan berlangsung di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS dengan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, dosen, serta tamu undangan lainnya. Dalam kesempatan ini, Prof. Wijang menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Material Maju Berbasis Alam: Harapan Baru Keberlanjutan”.
Prof. Wijang Wisnu Raharjo lahir di Surakarta dan memiliki rekam jejak akademik yang cemerlang. Beliau menempuh pendidikan S-1 di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1987-1993 dengan dukungan Beasiswa P2I dan Pertamina. Studi lanjut S-2 di UGM berlangsung pada 2000-2003 dengan Beasiswa Pascasarjana DIKTI. Pendidikan S-3 juga ditempuh di UGM pada tahun 2013-2018 melalui program Beasiswa Pascasarjana DIKTI.
Dalam karier profesionalnya, Prof. Wijang mengawali pengalaman kerja di sektor industri, di antaranya PT. Astra Agro Niaga (1993-1995) dan PT. Pison Agung (1995-1999). Setelah itu, Beliau bergabung sebagai dosen di FT UNS sejak tahun 1999 hingga sekarang. Kini, Prof. Wijang menjabat sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) S-2 Teknik Mesin FT UNS sejak tahun 2024.
Prof. Wijang menyoroti tantangan global dalam krisis lingkungan, seperti polusi udara, pencemaran air, pemanasan global, dan penipisan sumber daya alam. Menurutnya, pencarian material ramah lingkungan menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah komposit serat alam, yaitu material yang menggabungkan serat tumbuhan seperti bambu, sisal, dan eceng gondok dengan matrik polimer sebagai perekat.


“Material ini memiliki keunggulan ramah lingkungan, dapat terurai secara hayati, serta membutuhkan energi produksi lebih rendah dibandingkan dengan serat sintetis seperti serat kaca atau karbon,” terang Prof. Wijang.
Prof. Wijang juga mengakui bahwa komposit serat alam masih menghadapi tantangan seperti variasi sifat mekanik, daya serap kelembaban tinggi, serta kompatibilitas rendah dengan matrik polimer. Oleh karena itu, berbagai penelitian terus dilakukan untuk meningkatkan kualitasnya, salah satunya melalui modifikasi permukaan serat menggunakan perlakuan kimia atau fisika. Penggunaan nanomaterial seperti nanoselulosa dan karbon nanotube dapat memperkuat struktur komposit serta meningkatkan ketahanan terhadap kelembaban dan suhu tinggi. Penggunaan matrik berbasis bio, seperti polylactic acid (PLA), juga menjadi alternatif untuk menggantikan polimer sintetis yang sulit terurai.
Komposit serat alam telah diterapkan di berbagai sektor, seperti otomotif, konstruksi, elektronik, olahraga, dan medis. Di industri otomotif, material ini digunakan untuk panel interior mobil dan insulasi suara guna mengurangi bobot kendaraan dan jejak karbon. Di sektor konstruksi, material ini menjadi solusi untuk bangunan hemat energi. Sedangkan di bidang medis, serat alam digunakan sebagai bahan biodegradable untuk implan dan perangkat medis.
Prof. Wijang menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan komposit serat alam karena kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, tantangan seperti variasi kualitas serat dan kurangnya teknologi produksi yang efisien masih perlu diatasi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi sangat penting dalam mengembangkan dan memanfaatkan material ini.
“Komposit serat alam merupakan solusi yang menjanjikan untuk mengatasi permasalahan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Dukungan dari pemerintah dan industri sangat diperlukan agar inovasi ini dapat berkembang lebih luas,” ujarnya.
Dengan kerja sama yang baik, komposit serat alam dapat berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Dengan dikukuhkannya Prof. Wijang sebagai Guru Besar, diharapkan penelitian dan pengembangan material maju berbasis alam semakin berkembang. Capaian ini juga dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat serta industri di Indonesia.
Humas UNS
Reporter: R. P. Adji
Redaktur: Dwi Hastuti



















