Laboratorium Ilmu Hukum UNS Gelar Workshop Mahasiswa Demokratis, Kritis, dan Humanis

Laboratorium Ilmu Hukum UNS Gelar Workshop Mahasiswa Demokratis, Kritis, dan Humanis

UNS – Laboratorium Ilmu Hukum (LIH) Fakultas Hukum (FH) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar kegiatan workshop akademik, Sabtu (24/5/2025). Tema yang diangkat yakni “Membangun Mahasiswa Demokratis, Kritis, dan Humanis”. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula FH UNS.

Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang keilmuan dan institusi pemerintah. Di antaranya, Dr. Phil. Wahid Abdulrahman, SIP., M.Si., pakar pemerintahan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip). Hadir pula Dr. Nicholay Aprilindo B., S.H., M.H., selaku Direktur Jenderal (Dirjen) Instrumen dan Penguatan Hak Asasi Manusia (HAM) dari Kementerian HAM RI. Selain itu, Kepala LIH FH UNS, Dr. Andina Elok Puri Maharani, S.H., M.H., juga turut menjadi pembicara. Workshop diikuti sekitar 150 mahasiswa FH UNS dari berbagai angkatan. Beberapa dosen dan praktisi hukum turut hadir dalam kegiatan ini.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FH UNS, Dr. Jadmiko Anom Husodo, S.H., M.H., membuka kegiatan secara resmi. Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan pentingnya mahasiswa memiliki sikap kritis dan peduli terhadap isu kemanusiaan. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan aktif menjaga nilai-nilai demokrasi di lingkungan kampus.

Pada sesi pertama, Dr. Phil. Wahid Abdulrahman memaparkan materi tentang mahasiswa dalam perspektif teori elit. Menurutnya, teori elit masih relevan untuk melihat posisi mahasiswa di era saat ini. Ia menegaskan bahwa pergerakan mahasiswa memiliki peran penting dalam sejarah bangsa. Wahid menjelaskan, sejak sebelum kemerdekaan hingga era reformasi, elit politik lahir dari aktivis pergerakan. Saat orde baru, elit politik banyak berasal dari militer dan organisasi mahasiswa nasional. Pasca reformasi, sebagian besar elit politik mulai berasal dari kalangan pengusaha.

“Saya mau mencoba menggambarkan dalam perspektif sebuah teori sosiologi politik, ada namanya teori elit yang masih relevan untuk memposisikan bagaimana mahasiswa sekarang,” jelas Dr. Phil. Wahid.

Namun, menurutnya, benang merah pergerakan tetap berada ditangan aktivis mahasiswa. Ia menegaskan mahasiswa masih menjadi tulang punggung perubahan sosial dan politik di Indonesia. Wahid mengajak mahasiswa UNS untuk tetap membangun nalar kritis dalam menyikapi dinamika sosial.

Selanjutnya, Dr. Nicholay Aprilindo menyampaikan materi tentang nilai-nilai Pancasila dalam perspektif humanisme. Beliau menekankan pentingnya penghormatan terhadap HAM dalam sistem hukum Indonesia. Menurutnya, HAM dan hukum merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Nicholay menyatakan, pelanggaran terhadap HAM selalu diikuti pelanggaran hukum. Pelanggaran hukum juga berarti pelanggaran hak asasi manusia. Oleh sebab itu, mahasiswa harus memahami konsep-konsep tersebut dalam kerangka nilai Pancasila.

“Tema yang kali ini bagaimana membangun berpikir demokratis kritis dan humanisme tidak terlepas dari kerangka hak asasi manusia. Tetapi hak asasi manusia itu tidak berada di wilayah abu-abu hak asasi manusia itu dengan hukum bagaikan satu keping mata uang,” terangnya.

Beliau menambahkan, mahasiswa sebagai agen perubahan harus mampu menjaga nilai kemanusiaan. Nilai itu menjadi dasar dalam membangun tatanan masyarakat yang adil dan setara. Kegiatan seperti workshop ini menjadi sarana yang tepat untuk membentuk karakter tersebut.

Sementara itu, Dr. Andina Elok Puri Maharani mengajak mahasiswa untuk memahami makna perjuangan bangsa. Menurutnya, masih banyak cita-cita bangsa yang belum terwujud dan membutuhkan keterlibatan generasi muda. Beliau mengajak mahasiswa UNS untuk berjuang membangun negara secara humanis. Andina menegaskan bahwa rasa cinta tanah air harus melekat dalam jiwa generasi muda. Beliau juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kapasitas diri sebagai modal utama perubahan. Mahasiswa diharapkan menjadi cahaya yang menerangi lingkungan sekitarnya melalui karya dan gagasan.

“Mahasiswa harus menjadi cahaya yang menerangi diri sendiri dan lingkungan dimulai dengan meningkatkan kapasitas diri,” tutur Dr. Andina.

Kegiatan ini turut dihadiri FX Sasadara Paska, S.H. dari Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kota Surakarta. Kehadirannya menambah wawasan peserta terkait penerapan hukum di pemerintah daerah. Workshop berlangsung interaktif melalui diskusi terbuka antara narasumber dan mahasiswa. LIH FH UNS berkomitmen menghadirkan kegiatan serupa secara berkelanjutan. Tujuannya untuk mencetak mahasiswa yang demokratis, kritis, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat peran mahasiswa dalam pembangunan bangsa.
Humas UNS