Dewan Profesor UNS Gelar Kuliah Bestari, Perkuat University Value dan Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Kurikulum Pendidikan Tinggi

Dewan Profesor UNS Gelar Kuliah Bestari, Perkuat _University Value_ dan Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Kurikulum Pendidikan Tinggi
Dengarkan artikel

Dewan Profesor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan Kuliah Bestari bertema penguatan university value dan internalisasi nilai-nilai Pancasila melalui kurikulum pendidikan tinggi di Gedung Ki Hadjar Dewantara UNS Tower pada Kamis, 27 Agustus 2026. Acara ini bertujuan memperkuat karakter bangsa, integritas akademik, serta budaya kerja sivitas akademika di tengah disrupsi teknologi.

UNS — Dewan Profesor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan Kuliah Bestari bertema “Penguatan University Value dan Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Kurikulum Pendidikan Tinggi”. Kegiatan ini diselenggarakan secara luring dan daring di Gedung Ki Hadjar Dewantara UNS Tower, Kamis (27/8/2026).

Sekretaris Dewan Profesor UNS, Prof. Dr. Hanik Liskustyawati, M.Kes., dalam pengantarnya menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki mandat yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik. Perguruan tinggi merupakan ruang pembentukan manusia yang berkarakter, berintegritas, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menempatkan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi dalam kerangka nilai-nilai kebangsaan.

“Di tengah percepatan perubahan zaman yang ditandai oleh disrupsi teknologi dan derasnya arus informasi, perguruan tinggi tidak cukup hanya menyiapkan lulusan yang kompeten secara keilmuan. Perguruan tinggi juga harus memastikan bahwa kecerdasan, ilmu pengetahuan, dan kemajuan teknologi yang dimiliki generasi muda tetap bertumpu pada jati diri dan nilai-nilai bangsa Indonesia,” ujar Prof. Hanik.

Menurutnya, salah satu wahana strategis untuk mewujudkan hal tersebut adalah melalui penguatan kurikulum pendidikan tinggi. Nilai-nilai Pancasila perlu diintegrasikan ke dalam pengalaman belajar Mahasiswa sehingga tidak berhenti sebagai pengetahuan yang disampaikan di ruang kelas, tetapi menjadi nilai yang dihayati, diyakini, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kuliah Bestari ini mempertemukan perspektif kebangsaan, akademik, serta pendidikan dan pendampingan mahasiswa. Perpaduan ketiga perspektif tersebut diharapkan dapat menghasilkan gagasan strategis bagi penguatan ekosistem pendidikan kebangsaan di perguruan tinggi.

Ketua Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB PTNBH), Prof. Ir. Mindriany Syafila, M.S., Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada UNS yang telah menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa tema yang diangkat tidak hanya berkaitan dengan pendidikan tinggi, tetapi juga menyentuh masa depan bangsa.

“Perguruan tinggi pada hakikatnya bukan sekadar tempat berlangsungnya proses transfer pengetahuan. Perguruan tinggi adalah ruang pembentukan manusia, tempat ilmu pengetahuan bertemu dengan nilai, tempat kecerdasan intelektual dipertemukan dengan tanggung jawab moral, serta tempat generasi muda dipersiapkan untuk mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” jelas Prof. Mindriany.

Ia menambahkan bahwa perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dinamika demokrasi, serta berbagai tantangan sosial dan lingkungan menuntut perguruan tinggi untuk terus melakukan pembaruan. Namun, pembaruan tersebut tidak boleh membuat generasi muda kehilangan jati diri kebangsaan.

“Kita membutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi global, tetapi tetap memiliki akar kebangsaan yang kuat. Kita membutuhkan generasi yang menguasai teknologi, tetapi mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab,” katanya.

Dalam konteks tersebut, university value harus menjadi nilai luhur yang menjadi identitas dan karakter perguruan tinggi. Nilai tersebut perlu hadir dalam seluruh kehidupan akademik, mulai dari proses pembelajaran, penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, tata kelola, hingga perilaku seluruh sivitas akademika.

Prof. Mindriany menegaskan bahwa penguatan nilai Pancasila dalam kurikulum pendidikan tinggi bukan sekadar penambahan beban kurikulum. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan proses menghadirkan dimensi nilai dalam keseluruhan proses pendidikan.

“Pancasila harus dihayati sebagai nilai yang hidup dalam cara kita berpikir, cara kita mengambil keputusan, cara kita memperlakukan sesama, dan cara kita menggunakan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Ia juga mengajak perguruan tinggi untuk melakukan refleksi terhadap implementasi nilai-nilai yang selama ini telah dideklarasikan sebagai identitas institusi. Pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama adalah sejauh mana nilai tersebut benar-benar hidup dalam budaya akademik dan telah dihayati oleh mahasiswa, dosen, serta seluruh sivitas akademika.

“Kita membutuhkan generasi yang mampu berkelas dunia tanpa kehilangan ke-Indonesiaannya. Kita membutuhkan generasi yang berpikir global, bertindak profesional, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Pancasila,” ungkap Prof. Mindriany.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Penelitian UNS, Prof. Dr. Fitria Rahmawati, S.Si, M.Si., menegaskan bahwa perguruan tinggi tengah menghadapi tantangan serius dalam menjaga integritas dan marwah akademik. Otonomi perguruan tinggi, menurutnya, harus diimbangi dengan tata kelola dan pengawasan yang kuat untuk mencegah komersialisasi akademik, manipulasi penerimaan mahasiswa, pelanggaran etika, serta penyalahgunaan kecerdasan buatan yang dapat mengancam orisinalitas karya ilmiah.

Melalui kegiatan Kuliah Bestari, Prof. Fitria mengajak perguruan tinggi menjadikan berbagai kasus pelanggaran integritas sebagai momentum refleksi untuk memperkuat kembali nilai kebenaran ilmiah, kebebasan akademik yang bertanggung jawab, kejujuran, dan keadilan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai spirit dalam kehidupan kampus, bukan sekadar slogan. Nilai-nilai Pancasila perlu diinternalisasikan dalam berbagai mata kuliah dan bidang keilmuan, sehingga mahasiswa mampu menerapkan ilmu dengan mengedepankan kemanusiaan, keadilan, pemerataan, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat kembali menjadi benteng moral sekaligus ruang pembudayaan integritas dan nilai-nilai kebangsaan.

Rangkaian kegiatan Kuliah Bestari menghadirkan sejumlah materi strategis untuk memperkuat tata kelola dan budaya akademik perguruan tinggi. Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd., Ketua Dewan Profesor UNS, menyampaikan materi “Dari University Value ke Budaya Kerja”, yang membahas pentingnya menerjemahkan nilai-nilai universitas ke dalam budaya kerja dan perilaku sivitas akademika. Selanjutnya, Prof. Dr. Sarwanto, S.Pd., M.Si., Ketua Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) UNS, menyampaikan materi “Kurikulum sebagai Inti Penjaminan Mutu” yang menekankan peran kurikulum dalam memastikan kualitas pendidikan tinggi. Sesi diskusi kedua materi tersebut dipandu oleh Prof. Dr. Paed. Nurma Yunita Indriyanti, S.Pd., M.Si., M.Sc.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi “Strategi Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dalam Pendidikan Tinggi untuk Mengembangkan Karakter Bangsa” yang disampaikan Prof. Dr. Ermaya Suradinata, S.H., M.H., M.S., Dewan Pakar Bidang Geopolitik dan Geostrategi Manajemen Pemerintahan. Sesi diskusi dan kesimpulan dipandu oleh Prof. Dr. Hari Purwadi, S.H., M.Hum., sebagai bagian dari upaya merumuskan pemikiran dan strategi penguatan nilai-nilai Pancasila dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kapan kegiatan Kuliah Bestari Dewan Profesor UNS diselenggarakan?

Kegiatan Kuliah Bestari diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Agustus 2026. Lihat di artikel

Di mana lokasi penyelenggaraan Kuliah Bestari Dewan Profesor UNS?

Acara ini diselenggarakan secara luring dan daring di Gedung Ki Hadjar Dewantara UNS Tower. Lihat di artikel

Apa tema yang diangkat dalam Kuliah Bestari yang diselenggarakan oleh Dewan Profesor UNS?

Tema yang diangkat adalah Penguatan University Value dan Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Kurikulum Pendidikan Tinggi. Lihat di artikel