UNS – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terus mendorong pengelolaan sampah organik berkelanjutan di masyarakat. Sejumlah upaya ditunjukkan dengan pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) pada Kamis (13/6/2025) lalu. Kegiatan ini mengangkat tajuk “Pengelolaan Sampah Organik di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Mojo Makmur, Jebres, Surakarta”.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat pengelolaan sampah organik berkelanjutan dengan konsep integrasi UMAITA. Konsep tersebut melibatkan unggas, manggot, ikan, dan tanaman dalam sistem terpadu. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Acara diawali sambutan dari Prof. Dr. Suryanto, S.E., M.Si., selaku ketua program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UNS. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Suryanto menyampaikan pentingnya mengubah cara pandang terhadap sampah organik. Menurut Beliau, sampah organik yang selama ini dianggap limbah, sebenarnya dapat diolah menjadi sumber pendapatan.
“Banyak orang beranggapan sampah organik menjadi barang yang tidak berguna bahkan dicap sebagai barang negatif. Namun, melalui model integrasi UMAITA (red: Unggas, Magot, Ikan dan tanaman) akan diubah menjadi barang positif dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Prof. Suryanto.
Selanjutnya, Sekretaris Kelurahan Jebres, Santi Yuniati, S.Sos., M.A.P., turut memberikan sambutan dan membuka kegiatan. Ia berharap kerja sama UNS dan TPS3R “Mojo Makmur” dapat terus berlanjut dalam berbagai program lingkungan. Partisipasi masyarakat disebut menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E., M.Si. hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan tersebut. Dalam paparannya, Prof. Izza menyampaikan konsep ekonomi sirkular melalui pengolahan limbah organik. Menurut Beliau, jumlah sampah nasional mencapai lebih dari 34 juta ton setiap tahun. Sebagian besar di antaranya belum terkelola dengan baik, termasuk di wilayah Surakarta.


Prof. Izza memperkenalkan manggot atau larva Black Soldier Fly sebagai solusi ramah lingkungan. Manggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik dengan cepat dan tanpa bau. Selain itu, hasil budidaya manggot dapat diolah menjadi pakan ternak unggas dan ikan bernilai jual tinggi.
“Budidaya manggot tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga bernilai ekonomi tinggi. Produk seperti manggot kering dan tepung manggot bisa menjadi pakan unggas dan ikan, sekaligus mengurangi biaya pakan hingga 40%,” ungkap Prof. Izza.
Sesi FGD dipandu oleh Dr. Nurul Istiqomah, S.E., M.Si. dan diikuti peserta dari berbagai elemen. Sunarno, pengelola TPS3R “Mojo Makmur”, memaparkan kegiatan pengolahan kompos dan budidaya manggot yang telah berjalan. Ia menyebutkan beberapa tantangan, terutama dalam distribusi produk dan pasokan bahan baku.
Dukungan juga datang dari Komandan Kodim 0735/Surakarta, Letkol Inf. Fictor J. Situmorang, S.I.P., M.I.P. Ia menegaskan bahwa TNI siap bersinergi dalam program pengelolaan sampah organik di wilayah Surakarta. Program ini sejalan dengan upaya ketahanan pangan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
“Kami siap bersinergi dengan berbagai pihak untuk menyukseskan program ini,” ujarnya.
Dalam diskusi, warga menyampaikan aspirasi terkait minimnya partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah di lingkungan sekitar. Karena itulah, dibahas juga rencana membentuk paguyuban bank sampah sebagai upaya jangka panjang. Kerja sama dengan warung makan dirancang pula untuk menyalurkan sisa makanan sebagai pakan manggot.
Solusi lainnya yakni pemanfaatan pupuk cair hasil pengolahan kompos untuk pertanian hidroponik di lingkungan TPS3R. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal mewujudkan ekosistem pengelolaan sampah organik terpadu di Surakarta. Ke depan, program ini dirancang menjadi model pengembangan lingkungan berbasis teknologi lokal dan partisipasi masyarakat.
Melalui sinergi antara akademisi, pemerintah, dan komunitas, UNS berharap program ini dapat terus berkembang. Inisiatif ini diharapkan berkontribusi bagi terciptanya kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan di masa mendatang.
Humas UNS



















