uns berkarya

Sekolah dan Kampus Menjadi Media Penangkal Paham Radikalisme Sejak Dini

By 22 January 2016 April 13th, 2017 One Comment

FT-Rohmadi-UNS

Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.

Dosen Prodi PBI FKIP Universitas Sebelas Maret

 

“Tatkala hidupmu dapat bermanfaat untuk kemaslahatan umat mengapa harus kau sia-siakan

tanpa ada pengabdian untuk negeri dan wujudkan rasa syukur atas nikmat-Nya”

 

BOM. Seluruh umat manusia di dunia tersentak ketika mendengar diksi tersebut. Rasa miris tatkala kita melihat, mendengar, dan memahami kenyataan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini dengan aksi-aksi pengeboman dan banyaknya paham radikalisme yang merasuki masyarakat Indonesia. Merasuknya paham-paham radikalisme kepada masyarakat Indonesia khususnya para pemuda-pemudi yang masih dangkal pemahaman agama atau rapuh benteng keimanannya. Atau generasi Indonesia yang masih percaya dengan iming-iming “surga” hanya dengan “bunuh diri dengan bom”. Sangat tidak logis dan sulit dipercaya dengan akal sehat. Kalau memperoleh surga dengan cara seperti  itu, saya kira semua orang akan antri untuk mendapatkan surga itu. Tetapi itu semua tidak benar, itu yang harus ditanamkan kepada generasi Indonesia sebagai generasi masa depan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa di NKRI harus melakukan kerja sama untuk berusaha menangkal paham-paham radikalisme merasuki dan merusak generasi Indonesia. Kuncinya seluruh elemen bangsa, orang tua, masyarakat, guru, dosen, pejabat pemerintah, dan swasta harus memiliki kepedulian untuk saling mengingatkan dan menjaga NKRI.

Sekolah dan kampus harus menjadi media efektif untuk menangkal paham radikalisme merasuki generasi muda Indonesia sejak dini. Sekolah dapat dilihat secara makro, yakni sekolah nonformal yakni keluarga dan masyarakat sedangkan sekolah formal adalah sekolah jenjang PAUD, SD, SMP, SMA/ SMK, dan perguruan tinggi/ kampus. Organisasi siswa intra sekolah (osis) di sekolah dan unit kegiatan mahasiswa  (ukm) harus turut berpartisipasi aktif untuk menangkal paham-paham radikalisme dengan berbagai kegiatan positif yang dapat memotivasi dan menginspirasi mereka untuk menjadi calon-calon pemimpin masa depan di NKRI. Keberadaan sekolah dan kampus harus diintegrasikan dengan program kemendikbud dan kemenristek dikti yang mengeluarkan regulasi dan panduan untuk menanamkan pentingnya antiradikalisme kepada seluruh pelajar dan mahasiswa di NKRI. Regulasi Kemendikbud dan kemenristek dikti tersebut harus dikawal penuh dengan menyosialisasikan dan menyamakan visi antar pemerintah pusat, daerah, dan keluarga, khususnya kedua orang tua, guru, dosen, pelajar, mahasiswa, kepala sekolah, pengawas sekolah, kepala dinas, bupati/ walikota, gubernur, menteri, dan seluruh masayarakat di NKRI. Semua elemen tersebut harus bekerja sama dan memiliki kepedulian untuk menangkal masuknya paham radikalisme merusak mental dan psikis generasi Indonesia sebagai generasi masa depan Indonesia dan upaya-upaya untuk memecah belah NKRI.

Orang tua menjadi kunci utama untuk menangkal masuknya paham radikalisme kepada putra-putrinya. Komunikasi orang tua dengan anak secara rutin harus dilakukan dalam berbagai kesempatan, baik saat makan bersama atau santai bersama keluarga. Orang tua harus memiliki kepedulian dan memberikan kasih sayang kepada putra-putrinya dalam berbagai kesempatan sehingga anak tidak merasa dibiarkan atau tidak dipedulikan oleh kedua orang tuanya. Sesibuk apa pun kedua orang tua harus melakukan komunikasi dengan putra-putrinya, baik langsung maupun melalui telepon di mana pun mereka berada atau sedang bertugas. Orang tua juga harus memantau teman-teman dan lingkungan berkegiatan putra-putrinya sehingga dengan cepat dapat diingatkan ketika mereka sudah mulai akan keluar dari jalurnya. Kata kuncinya anak jangan sampai merasa didikte, dan dikekang.  Berilah keleluasaan untuk belajar, membaca, dan biarkan untuk berkreativitas sepanjang positif. Orang tua cukup mmebrikan arahan, dengan perhatian dan kepedulian sebagai bentuk kontrol orang tua kepada putra-putrinya.

Masyarakat sebagai kunci kedua untuk menangkal masuknya paham-paham radikalisme kepada generasi muda-mudi Indonesia. Hal ini harus dilakukan komunikasi antarmasyarakat kepada karang taruna, RT, RW, dan aparat desa/kelurahan. Komunikasi yang baik dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti bakti sosial, kerja baik, donor darah, pembangunan tempat-tempat beribadah yang melibatkan para generasi muda, seperti karang taruna, risma, atau komunitas-komunitas akan menjadikan mereka semakin merasa diperhatikan oleh masyarakat. Selain itu, para pemuda ketika mendapatkan perhatian dan kepedulian akan dapat berkontribusi positif dan mencotoh generasi tua yang memiliki banyak pengalaman dalam mengarungi bahtera kehidupan yang penuh dengan tantangan. Hal ini sebagai bentuk pelajaran dan softskill yang dapat menjadi wawasan pengetahuan para generasi muda Indonesia.

Sekolah, guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah  sebagai kunci ketiga  untuk menangkal masuknya paham radikalisme kepada seluruh generasi muda-mudi Indonesia. Seorang guru dan dosen sebagai sosok yang digugu dan ditiru harus dapat menjadi teladan bukan sekadar memberi teladan. Guru dan dosen harus dapat menunjukkan sikap dan perbuatan baik dan buruk sehingga para pelajar dapat memilih jalan kebaikan dan meninggalkan segala sikap perilaku yang kurang baik. Dengan demikian seorang guru bersama kepala sekolah dan murid-muridnya harus mampu melakukan proses pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan yakni berbasis PAIKEM. Pembelajaran tersebut akan memberikan daya tarik dan kerinduan para siswa untuk terus berkreasi dan produktif untuk menghasilkan karya-karya inovatif berbasis pembelajaran proses dan hasil di sekolah.

Merujuk tiga pilar kunci penangkal paham radikal di atas, semoga generasi-generasi Indonesia akan terselamatkan dari jalan kesesatan dan kembali pada jalan yang telah digariskan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan negeri Indonesia tercinta ini. Dengan demikian, pelajar dan mahasiswa  tidak ada kesempatan untuk melamunkan hal-hal yang kurang baik dan ketika ada paham-paham yang akan merasuki pikirannya sudah dapat diantisipasi oleh dirinya sendiri. Penanaman sikap dan perilaku jujur, mandiri, berani, bertanggung jawab, dan rasa nasionalisme terhadap NKRI  akan dapat membentuk karakter generasi Indonesia sehingga terbebas dari paham radikalisme dan  anarkisme yang merusak masa depan mereka serta masa depan bangsa Indonesia tercinta.

“ Aku cinta Indonesia, aku bangga Indonesia, Indonesia adalah surga dunia kita semua. Mari kita jaga dan rawat semampu dan sesuai dengan profesi kita masing-masing. Segala sesuatu akan terasa indah dan bahagia saat kita mensyukuri segala nikmat-Nya”

 

*Kepala Perpustakaan UNS

Ketua Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI)

Email: rohmadi_dbe@yahoo.com

One Comment

  • Ruslan says:

    Dalam beragama memang harus radikal. Harus mengakar dan menyeluruh supaya paham akan agamanya. Jika sudah mengakar, mendalam dan radikal maka indivudu tersebut akan terhindar dari ajaran yg menyimpang seperti yg diatas.

Leave a Reply