UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menambah guru besar baru dengan dikukuhkannya Prof. Ofita Purwani, S.T., M.T., Ph.D., dalam bidang Arsitektur. Momen ini menjadikannya sebagai Guru Besar ke-36 di Fakultas Teknik (FT) dan ke-351 di UNS. Bertempat di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Prof. Ofita menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Kota, Kekuasaan, dan Royal Agency”.
Lahir di Kebumen, Prof. Ofita memiliki rekam jejak akademik yang panjang. Pendidikan sarjana ditempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Beliau melanjutkan studi magister di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Gelar Ph.D. berhasil diraihnya dari University of Edinburgh. Sepanjang karier akademiknya, Prof. Ofita aktif dalam berbagai organisasi dan menerima berbagai penghargaan, termasuk Urban Studies Foundation International Fellowship dan LSE Senior Visiting Fellowship dari London School of Economics and Political Science.
Dalam pidatonya, Prof. Ofita mengangkat isu tentang keterkaitan antara tata kota dan kekuasaan. Fokusnya terdapat pada perbandingan antara Solo dan Yogyakarta. Meskipun kedua kota memiliki pola tata ruang yang mirip, peran keraton dalam struktur kota sangat berbeda. Teori Kim Dovey tentang visibility dan invisibility dalam arsitektur kota menjadi acuan yang digunakan. Keputusan untuk menonjolkan atau menyamarkan elemen tertentu dalam kota merupakan refleksi dari struktur kekuasaan yang ada. Sejumlah contoh dipaparkan, seperti keberadaan patung Slamet Riyadi di Solo yang secara visual lebih dominan dibandingkan gerbang Keraton Kasunanan. Hal ini mencerminkan perubahan struktur kekuasaan di kota tersebut.
Selain elemen fisik, festival kota juga memainkan peran penting dalam mempertahankan struktur kekuasaan. Salah satu contohnya adalah Grebeg Astana Oetara di Solo. Festival ini memperkuat kembali pengaruh Mangkunegaran melalui ritual budaya.
“Festival dan perayaan seperti ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari mekanisme untuk mempertahankan legitimasi dan peran keraton di ruang publik,” ungkapnya.
Prof. Ofita memperkenalkan konsep royal agency, yaitu peran aktif monarki dalam pembangunan kota di Asia Tenggara. Menurutnya, pengaruh kraton tidak hanya terbatas pada aspek budaya, tetapi juga ekonomi dan politik.
“Kita bisa melihat bagaimana Crown Property Bureau di Thailand mengelola aset besar, atau bagaimana Sultan Johor berperan dalam proyek Forest City di Malaysia. Ini menunjukkan bahwa monarki tetap relevan dalam dinamika perkotaan saat ini,” paparnya.
Penelitian Prof. Ofita mengisi kesenjangan dalam kajian arsitektur yang selama ini didominasi oleh perspektif dari negara-negara Global North. Melalui kolaborasi dengan akademisi internasional, ia berupaya mengeksplorasi lebih dalam bagaimana royal agency berkontribusi terhadap perkembangan kota di Asia Tenggara. Dengan pengukuhan ini, Prof. Ofita menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu arsitektur. Khususnya dalam pemahaman hubungan antara kekuasaan dan tata kota.
“Melalui pendekatan ini, kita dapat melihat bagaimana ruang kota bukan hanya sekadar tempat tinggal dan aktivitas, tetapi juga representasi dari struktur sosial dan kekuasaan yang terus berkembang,” pungkasnya.
Humas UNS



















