Risoymilk, Susu Pencegah Stunting pada Bayi Intoleran Laktosa Karya Tim UNS

UNS– Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengembangkan susu pencegah stunting bagi bayi dengan intoleran laktosa. Produk ini mengandung susu beras dan kedelai dengan fortifikasi nanopartikel zinc. Kandungan nutrisi pada susu ini menjadi kian meningkat serta baik dalam pemenuhan kebutuhan si kecil.

Riset susu dilakukan oleh Tim Program Kegiatan Mahasiswa (PKM) Riset Eksakta (RE) UNS, yakni Tia Febrianti, Ade Eka Yuniar, dan Ajeng Fitri Rivalina dari Program Studi D-3 Farmasi Sekolah Vokasi (SV), Aliya Karima dari Prodi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian (FP), serta Levinahansa Arbelinda dari Prodi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Riset mereka dibimbing oleh Nindita Clourisa Amaris Susanto, S.Si., M.Sc., yang merupakan Dosen UNS.

Kepada uns.ac.id, Tia Febrianti selaku ketua menyampaikan bahwa ide awal penelitian ini didasarkan pada kasus stunting Indonesia. Program pemberian ASI eksklusif pada bayi dan makanan tambahan peningkat gizi pada anak menjadi upaya yang terus dilakukan pemerintah. Namun, banyak Ibu yang tidak dapat memberikan ASI eksklusif. Faktor tidak tercukupinya pemberian ASI bisa terjadi karena kurangnya produksi ASI itu sendiri dan kesibukan bekerja pada ibu menyusui.

Para orang tua kerap menggantinya dengan susu formula sapi dimana banyak juga anak yang mengalami intoleran laktosa. Kebutuhan nutrisi bayi dari susu menjadi tidak tercukupi. Mahasiswa UNS juga mengamati para bayi dengan kondisi intoleran laktosa yang diberikan susu kedelai atau susu beras. Para orang tua belum memperhatikan kandungan nutrisi di dalamnya.

“Dari pengamatan yang kami lakukan diketahui bahwa banyak bayi dan balita yang tidak menyukai susu kedelai karena baunya dan rasa yang langu serta kurang manis,” ujar Tia.

Kasus diare pada bayi yang diberikan susu formula sapi merupakan salah satu bentuk gejala dari intoleran laktosa. Intoleran laktosa menyebabkan tubuh bayi tidak bisa mencerna laktosa sehingga menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare dan perut kembung. Kurangnya nutrisi yang seharusnya diperoleh melalui susu dapat memicu terjadinya stunting pada bayi.

Pencegahan kondisi ini dapat melalui pengembangan alternatif pengganti susu sapi yang ramah terhadap bayi dengan intoleran laktosa. Susu kedelai seringkali digunakan sebagai pengganti susu sapi karena mengandung banyak nutrisi. Namun, susu kedelai mengandung karbohidrat yang rendah. Bau langu dan rasa kurang enak juga dapat menurunkan minat bayi untuk minum susu.

Susu beras juga sering digunakan sebagai pengganti susu sapi karena mengandung karbohidrat. Namun, susu beras memiliki kandungan mineral yang rendah dan cenderung tidak mengandung protein. Mineral yang sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak salah satunya adalah zinc.

Zinc atau ZnO sudah sering digunakan sebagai suplemen kesehatan karena khasiatnya yang dapat membantu meningkatkan kinerja sistem pencernaan dan sistem kekebalan tubuh. Zinc yang difortifikasi memiliki bentuk nanopartikel karena nanopartikel memiliki stabilitas dan kemampuan menyerap lebih baik dan cepat dibandingkan partikel dalam bentuk biasanya.

“Oleh karena itu, pada penelitian ini tim kami mengkombinasikan susu dari beras dan kedelai untuk meningkatkan kandungan nutrisi pada susu, meningkatkan cita rasa susu, menutupi rasa sedikit langu dan kurang manis dari susu kedelai serta untuk memenuhi kebutuhan mineral,” terang Tia.

Humas UNS

Reporter: R. P. Adji

Redaktur: Dwi Hastuti