UNS – Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar acara “Dialog Sehat” dalam rangka memperingati Hari Bipolar Sedunia. “Bipolar dan Trauma Masa Kecil: Memahami Hubungan yang Tersembunyi” menjadi tema yang diangkat. Acara ini menghadirkan Dokter Spesialis Psikiatri RS UNS, Lisetiawati, dr., Sp.K.J., sebagai narasumber dan dipandu oleh Adhinda Sekar Ayu, dr., sebagai host.
Dalam dialog tersebut, dr. Lisetiawati menjelaskan bahwa gangguan bipolar merupakan gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem. Pada episode manik, penderita mengalami kebahagiaan yang berlebihan, peningkatan energi, dan perilaku impulsif. Sebaliknya, pada episode depresi, penderita merasakan kesedihan mendalam, kehilangan minat, dan keputusasaan. Perubahan suasana hati yang drastis ini dapat mempengaruhi kualitas hidup dan fungsi sehari-hari penderitanya.
“Gangguan bipolar seperti dua kutub yang berlawanan, di satu sisi ada kebahagiaan yang luar biasa dan di sisi lain ada kesedihan yang mendalam,” ujarnya melalui siaran langsung di Kanal Youtube Rumah Sakit UNS, Senin (11/3/2025).
Terkait dengan prevalensi gangguan bipolar, dr. Lisetiawati menyatakan bahwa angka kejadian cukup tinggi, terutama pada remaja. Faktor risiko gangguan bipolar meliputi usia, genetika, dan faktor lingkungan. Usia remaja merupakan periode kritis, di mana individu rentan terhadap gangguan bipolar. Faktor genetik juga berperan signifikan. Jika salah satu orang tua menderita bipolar, risiko anak untuk mengalaminya mencapai 15-30%. Jika kedua orang tua merupakan penderita, risikonya meningkat hingga 50-75%.


“Remaja lebih rentan mengalami gangguan bipolar karena masa transisi ini penuh dengan perubahan biologis, kognitif, dan sosial emosional,” ungkapnya.
Selain itu, individu dengan riwayat trauma masa kecil memiliki risiko 2,63 kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan bipolar dibandingkan mereka yang tidak memiliki trauma masa kecil. Trauma masa kecil, seperti kekerasan fisik, emosional, seksual, dan pengabaian dapat meningkatkan adanya faktor risiko. Demikian halnya pada eksposur terhadap kekerasan dalam rumah tangga atau perundungan. Dokter Lisetiawati menekankan bahwa kekerasan emosional merupakan jenis trauma yang paling sering berkontribusi terhadap timbulnya gangguan bipolar.
Trauma masa kecil sendiri dapat mempengaruhi perkembangan otak, khususnya area yang berkaitan dengan regulasi emosi dan respons terhadap stres, seperti hipokampus dan amigdala. Kerusakan pada area ini dapat meningkatkan sensitivitas terhadap stres dan mengganggu kemampuan individu dalam mengatur emosi. Hal tersebut meningkatkan kerentanan terhadap gangguan bipolar.
Dr. Lisetiawati menjelaskan bahwa masyarakat dapat mengenali gangguan bipolar dengan memperhatikan tanda-tanda tertentu. Gejala gangguan bipolar pada episode manik ditandai dengan perasaan gembira yang berlebihan, penurunan kebutuhan tidur, peningkatan energi, nafsu seksual yang meningkat, perilaku impulsif seperti menghamburkan uang, serta membuat keputusan tiba-tiba. Pada episode manik, gejala psikotik seperti waham kebesaran dan halusinasi dapat muncul.
Pada Episode Depresi, gangguan bipolar ditandai dengan perasaan sedih yang berkepanjangan, kehilangan minat atau kesenangan, kelelahan, perasaan tidak berharga atau bersalah, kesulitan berkonsentrasi, perubahan nafsu makan, gangguan tidur, dan pikiran untuk bunuh diri.
Dalam sesi diskusi, dr. Lisetiawati menekankan bahwa bipolar bukanlah gangguan yang dapat membaik dalam satu kali kunjungan ke dokter. Terapi dengan obat-obatan seperti mood stabilizer dan antidepresan sangat diperlukan untuk mengontrol gejala. Selain itu, psikoterapi seperti Mindfulness Base Cognitive Therapy (MBCT), Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Dialectical Behavior Therapy (DBT), juga dengan terapi keluarga dapat membantu pasien dalam mengelola emosi dan membangun pola pikir yang lebih sehat.
Beliau juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam proses pemulihan penderita bipolar. Oleh karena itu, keluarga diharapkan dapat memahami kondisi penderita dan memberikan dukungan yang konsisten.
“Support dari keluarga sangat penting agar kondisi penderita tetap stabil,” tegasnya.
Melalui acara Dialog Sehat ini, dr. Lisetiawati menegaskan bahwa gangguan bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa, tetapi merupakan kondisi serius yang perlu dipahami dan ditangani dengan tepat. Edukasi kepada masyarakat semacam ini diharapkan dapat mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penderita. Oleh karena itu, orang dengan gangguan ini dapat merasa lebih diterima dan didukung dalam komunitas. Kegiatan ini juga merupakan bentuk upaya UNS untuk mencapai SDGs ketiga kehidupan yang sehat dan sejahtera. Semakin banyak edukasi yang diberikan pada masyarakat tentang kesehatan mental, memungkinkan masyarakat memiliki pandangan positif dan mendukung pada para individu dengan bipolar.
Humas UNS
Reporter: R. P. Adji
Redaktur: Dwi Hastuti



















