Berita Terkini

UNS Ingatkan Pentingnya Literasi Bencana 

By 4 September 2019 No Comments

UNS – Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengingatkan masyarakat akan pentingnya literasi mengenai bencana alam melalui acara 3rd International Geography Seminar (3rd IGEOS – UNS). Acara bertema “Increasing Disaster Literacy Towards Resilient Communities” ini dilaksanakan di Puri Kencono Ballroom Hotel Lorin, Solo pada Sabtu (31/8/2019).

Acara ini dibuka secara simbolis oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNS, Prof. Dr. Ahmad Yunus dengan pemukulan gong. Prof. Ahmad Yunus menyampaikan, acara ini merupakan wujud konsen UNS terkait perkembangan pendidikan bencana alam dalam masyarakat Indonesia. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa secara geografis, Indonesia berada di wilayah yang rawan mengalami bencana alam, baik gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami.

Seminar ini dihadiri oleh dua pembicara utama, yaitu Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Zainal Abidin, M.Sc., Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Prof. Greg Bankoff dari University of Hull, Inggris. Prof. Hasanuddin Zainal Abidin menyampaikan materinya tentang “Geospatial Big Data for Disaster Management”. Dalam kesempatan ini, beliau menyampaikan bahwa pemetaan tematik secara digital dapat mengurangi resiko jumlah korban akibat bencana alam.

“Pembangunan tata ruang seharusnya sudah berdasar pada peta tematik bencana alam sehingga tidak hanya bisa mengurangi dampak bencana, kita juga dapat mempercepat pemulihan pascabencana, mengingat bencana seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami tidak bisa kita hindari. Informasi mengenai peta tematik bencana alam di Indonesia bisa diunduh secara gratis dengan mengakses laman tanahair.indonesia.go.id,” terang alumni University of New Brunswick Kanada ini.

Sementara itu, Prof. Greg Bankoff menjelaskan tentang Cultures and Disaster: Understanding Cultural Framing in Disaster. Dalam materinya, professor di bidang Sejarah Lingkungan ini mengaitkan antara wacana sejarah sosial dengan kerentanan, kepulihan dan adaptasi terhadap bencana.

“Konsep kepulihan muncul setelah perang dunia II dan perang dingin, dimana saat itu masyarakat mencoba ‘pulih’ dari keterpurukan sebagai respon menghadapi bencana,” jelasnya. 

Lebih lanjut, beliau menerangkan bahwa untuk tangguh menghadapi bencana, masyarakat juga harus tanggap dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, seperti globalisasi dan perubahan musim.

“Ada di tangan masyarakatnya, terlebih akademisi seperti kita, apakah sebuah bangsa itu akan rentan atau tangguh dalam menghadapi sebuah bencana,” tutupnya. Humas UNS/Try

Leave a Reply