UNS — Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tergabung dalam Kelompok Asistensi Mengajar Hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di SMP Negeri 2 Plupuh, Sragen melakukan kegiatan pemanfaatan limbah yang berada di sekitar sekolah.
Dalam kesempatan tersebut, Kelompok Asistensi Mengajar Hibah mengajari siswa membuat lilin aromaterapi dengan ornamen batik. Langkah tersebut sekaligus sebagai upaya penggalian potensi sumber daya lokal.
Ketua Kelompok Asistensi Mengajar Hibah MBKM UNS di SMP Negeri 2 Plupuh, Laili Fathurrohmah Tiarno, mengatakan bahwa Kelompok Asistensi Mengajar di SMP Negeri 2 Plupuh merupakan bagian dari program Hibah MBKM UNS Tahun 2025. Tim ini beranggotakan sepuluh mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Pendidikan IPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS yang dibimbing oleh Dr. Kadek Dwi Hendratma Gunawan, M.Pd. dan Dr. Budi Utami, M.Pd.
Laili menambahkan, pembuatan lilin aromaterapi dengan ornamen kain batik merupakan salah satu cara untuk mengenalkan pemanfaatan limbah industri batik kepada siswa. SMP Negeri 2 Plupuh yang berada di Kabupaten Sragen, khususnya di wilayah sekitar sekolah, dikenal sebagai kawasan yang memiliki banyak industri batik. Namun, limbah kain batik sisa produksi seringkali tidak dimanfaatkan secara maksimal dan hanya menjadi sampah.
Permasalahan limbah tekstil, khususnya kain perca batik, menjadi isu lingkungan yang signifikan di daerah penghasil batik seperti Kecamatan Plupuh, Sragen. Kurangnya pemanfaatan limbah kain perca menyebabkan penumpukan sampah yang mencemari lingkungan. Oleh karena itu, solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memanfaatkan kain perca batik sebagai inovasi pembuatan lilin aromaterapi yang ramah lingkungan dan juga bernilai ekonomi.
Lilin aromaterapi yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai produk relaksasi dan dekoratif, tetapi juga mengandung nilai estetika dan budaya melalui integrasi motif batik. Inovasi ini mengedepankan konsep keberlanjutan dan ekonomi sirkular, serta membuka peluang pemberdayaan masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan siswa di sekolah. “Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak siswa untuk melihat limbah kain perca batik sebagai bahan yang bisa memiliki nilai tambah, salah satunya dengan menjadikannya ornamen pada produk lilin aromaterapi yang juga memiliki nilai estetika dan fungsional,” ujar Laili kepada uns.ac.id, Jumat (20/6/2025).
Kegiatan ini sekaligus mendukung implementasi Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 2 Plupuh. Tim memilih produk lilin aromaterapi karena proses pembuatannya relatif sederhana, menarik bagi siswa, dan bisa mengembangkan kreativitas serta kesadaran lingkungan.



“Lilin aromaterapi dipilih karena selain mudah dibuat, juga bermanfaat untuk relaksasi dan bernilai jual. Dengan tambahan ornamen kain batik bekas, produk ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga bernilai budaya,” tambahnya.
Proses pembuatan dimulai dengan pengumpulan sisa kain batik dari sekitar sekolah yang kemudian dibersihkan dan dipotong sesuai ukuran. Sementara itu, siswa juga diajarkan membuat lilin aromaterapi dari bahan dasar lilin lebah dan minyak esensial.
“Kegiatan ini kami selenggarakan pada 14 April 2025 lalu, dan beberapa siswa kelas VII dan kelas VIIIikut terlibat secara aktif dalam prosesnya,” terang Laili.
Guru Pamong Mata Pelajaran IPA SMP Negeri 2 Plupuh, Purna Ratna, menyambut baik kegiatan tersebut dan mengapresiasi inisiatif para mahasiswa. Pihak sekolah menilai kegiatan ini sangat relevan dengan kondisi lingkungan sekitar dan dapat membentuk karakter siswa yang lebih peduli terhadap lingkungan dan budaya lokal.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena mengajarkan siswa untuk peduli terhadap limbah di sekitarnya dan mengolahnya menjadi produk kreatif yang bernilai. Ini sangat sesuai dengan semangat pembelajaran di Kurikulum Merdeka,” tutur Purna Ratna.
Melalui inovasi pemanfaatan limbah kain batik menjadi ornamen lilin aromaterapi,diharapkan siswa tidak hanya memahami konsep daur ulang dan pengurangan limbah, tetapi juga turut melestarikan budaya batik sebagai warisan lokal Sragen yang patut dibanggakan. HUMAS UNS



















