UNS – Dalam rangka memperingati Heart Failure Awareness Day 2025 dengan tema “Heart Failure Doesn’t Stop Us”, tim Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang juga merupakan Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UNS memberikan edukasi mendalam kepada masyarakat tentang pentingnya meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung. Edukasi ini dipimpin oleh para ahli terkemuka, yaitu Dr. dr. An Aldia Asrial, Sp.JP., FIHA; Dr. dr. Habibie Arifianto, Sp.JP.(K), M.Kes, FIHA; dan dr. Irnizarifka, Sp.JP., SupSp. Ar. (K), FIHA, FAPSC, FAsCC, FHFA dan ditayangkan melalui kanal Youtube RS UNS, Selasa (6/5/2025).
Penjelasan Umum Gagal Jantung
Gagal jantung adalah kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara efektif untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Hal ini terjadi akibat kegagalan fungsi pompa jantung. Cairan dapat menumpuk di berbagai bagian tubuh, seperti paru-paru, perut, dan kaki. Penyebab umum meliputi hipertensi, penyakit jantung koroner, kardiomiopati, penyakit katup jantung, hingga kondisi khusus seperti penyakit jantung akibat kehamilan.
“Penumpukan cairan akibat gagal jantung di paru-paru dapat menyebabkan sesak napas, di perut dapat mengakibatkan rasa begah, dan di kaki dapat menyebabkan pembengkakan. Jika mengalami sesak napas, mudah lelah, pembengkakan pada kaki dan perut, penurunan nafsu makan, berat badan naik tiba-tiba, hingga denyut jantung tidak teratur segera periksakan diri, bisa jadi itu gejala gagal jantung,” ungkap dr. Habibie.
Harapan Baru untuk Pasien Gagal Jantung
Sebelumnya, diagnosis gagal jantung sering dianggap sebagai akhir dari harapan. Kini, kemajuan dalam pengobatan telah memberikan peluang besar bagi pasien untuk menjalani hidup berkualitas.
dr. Habibie menambahkan, selama 5 hingga 10 tahun terakhir, perkembangan obat-obatan modern telah menawarkan tiga manfaat utama, yaitu mengurangi risiko kematian, menurunkan frekuensi rawat inap, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Dr. dr. An Aldia Asrial menjelaskan, obat-obatan modern memberikan harapan bukan hanya bagi pasien, tetapi juga keluarga dan dokter yang merawatnya. Pengobatan utama saat ini dikenal sebagai Four Pillars atau empat pilar terapi gagal jantung, yang meliputi ACE inhibitor atau ARB, ARNI (Angiotensin Receptor-Neprilysin Inhibitor), Beta-blocker seperti bisoprolol, MRA (mineralocorticoid receptor antagonist) dan SGLT2 inhibitor. Sedangkan diuretik juga dapat ditambahkan untuk mengurangi gejala penumpukan cairan.


Rencana Pengobatan yang Perlu Diperhatikan
Dalam rencana pengobatan pasien gagal jantung, dr. An Aldia menambahkan pentingnya kepatuhan terhadap waktu konsumsi obat-obatan. Selain itu, gaya hidup sehat seperti diet dan olahraga teratur perlu dilaksanakan. Penting bagi pasien untuk memahami bahwa obat-obatan gagal jantung dirancang untuk penggunaan jangka panjang. Kepatuhan dalam konsumsi obat menjadi kunci keberhasilan terapi.
“Dokter meresepkan pengobatan yang namanya kronoterapi, yaitu mengikuti jadwal sesuai irama sirkadian tubuh. Beta-blocker seperti bisoprolol sebaiknya dikonsumsi di pagi hari untuk menyesuaikan dengan aktivitas harian, sedangkan diuretik diminum saat perut kosong untuk penyerapan optimal,” ujar Dr. dr. Habibie Arifianto.
Pasien juga dianjurkan untuk tetap aktif secara fisik, dengan latihan ringan hingga sedang selama 150–200 menit per minggu, yang dibagi dalam beberapa sesi. Aktivitas fisik merupakan pilar kelima dalam meningkatkan kualitas hidup.
Peran Keluarga dalam Mendukung Pasien
Keluarga memiliki peranan besar dalam mendukung pasien gagal jantung, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual. Dukungan moral dari keluarga sangat penting, termasuk membantu pasien mematuhi pengobatan dan mengelola gaya hidup sehat.
Dr. An Aldia menegaskan, keluarga berperan sebagai pilar utama yang membantu pasien tetap berpegang pada pengobatan yang telah direncanakan.
Ajakan untuk Peduli
Tim dokter RS UNS menghimbau masyarakat untuk segera berkonsultasi apabila menemukan gejala gagal jantung pada keluarga atau kerabat. Dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, pasien dapat tetap berperan aktif dalam masyarakat.
Klinik Gagal Jantung RS UNS, sudah terverifikasi oleh American Heart Association, yang mana tim ahli jantung memberikan pengobatan dan terapi yang sudah disesuaikan dengan rencana terbaik.
“Di RS UNS, kami mencatat segala keluhan, gejala, hingga obat yang keluar. Sekitar 1.400 pasien report nya kami laporkan tiap tahun. Dari data kami menemukan sekitar 9 bulan, fungsi jantung pasien yang di bawah 40 persen dengan obat-obatan rutin 4 pilar bahkan hanya 3 pilar bisa membaik hingga normal,” terang dr. Nizar.
Dalam closing statement nya, dr. Irnizarifka menambahkan bahwa gagal jantung ini tidak memberhentikan pasien, keluarga, hingga dokter untuk terus bisa berfikir positif dan percaya bahwa hidup berkualitas pada pasien gagal jantung bisa dicapai. Diskusi ini merupakan kegiatan yang sejalan dengan SDGs ke-3, yaitu Kesehatan dan Kesejahteraan yang baik. HUMAS UNS



















